Dia
Awalnya biasa saja, bahkan aku
sama sekali tidak perduli kehadirannya. Dia sama saja dengan pendatang baru
yang lainnya, tidak ada hal menarik secara kasat mata darinya. Terkadang aku
bahkan lupa dengan namanya. Aku jarang sekali melihatnya secara langsung, kita
bekerja di satu gedung yang sama, tetapi di ruangan yang berbeda. Secara
otomatis kita akan jarang sekali bertemu secara langsung. Sebelum mengenalnya
dia terlihat sangat biasa saja.
Kemudian, kita saling menjalin
pertemanan di dunia maya. Di wadah yang hampir semua orang memakainya. Dari
situlah aku mulai mengenal dia. Bertemu pertama kali di dunia nyata, namun
mengenal di dunia maya.
Semua berawal dari sebuah lagu
milik band zaman dulu, bahkan ketika lagu itu diluncurkan, aku belum hadir ke
dunia ini. Entah sangat kebetulan atau memang sudah Tuhan rencanakan ternyata
dia memiliki selera musik yang sama denganku. Lagu itulah yang membuatku
sedikit memiliki keinginan untuk mengenalnya. Tidak ada maksud lebih, hanya
ingin mengenalnya karena kita menggemari satu hal yang sama, yaitu musik lawas
dari negeri Paman Sam.
Lama-lama kita sering bertegur
sapa di dunia maya, dia bahkan sudah menyimpan nomorku. Bukan karena dia
penggemarku, tapi memang nomor ponselku sudah dipublikasikan di ruangan
kerjanya oleh orang-orang yang bekerja terdahulu, untuk mempermudah urusan
katanya.
Semakin hari aku mengenalnya, dia
semakin membuatku penasaran. Sedari dulu aku akan selalu terpesona kepada
laki-laki cerdas, pun tidak cerdas minimal dia berwawasan. Dia sosok yang
sangat menggilai tulisan, dia membuat tulisan serta menikmatinya. Yang mana
kegiatan seperti itu sangat bukan diriku. Yang membuatku lebih mengaguminya
adalah kesederhanaannya. Cerdas dan sederhana, kombinasi yang sungguh
mengagumkan.
Aku tidak tahu apa yang
sebenarnya aku rasakan saat ini kepadanya, ini sungguh aneh. Kerap kali kita
saling melemparkan kata demi kata melalui udara. Tetapi jika aku dihadapkan di
depan wajahnya, lidahku seakan kelu, tidak banyak kata-kata yang dapat aku
lontarkan, entah malu atau bagaimana, tapi pertanyaannya mengapa aku malu?
Detak jantungku berdetak lebih
kencang, seperti akan menghadapi wawancara kerja atau semacamnya. Ujung-ujung
jari tanganku mendingin. Dan entah perasaanku saja atau bagaimana, menurutku
dia juga merasakan hal yang sama jika bertemu secara langsung denganku, tapi
mungkin tidak separah aku, yang dia lakukan hanya sedikit bicara saja, perihal
merasa malu atau sebagainya aku tidak tahu.
Walau bagaimanapun, sesedikitnya
kata yang kita lontarkan, dan sesingkat-singkatnya waktu kita bicara secara
langsung. Detik-detik tersebut membuatku merasa bahagia. Rasanya seperti sedang
dibawah terik matahari kemudian meneguk air dingin, menyegarkan dan menyenangkan.
Detik-detik menyenangkan itu yang kerap kali aku sesali. Ya, aku menyesalinya
setelah dia bergegas pergi, dan aku berujar dalam benakku “Tidakkah bisa lebih
lama lagi kita bicara?”
Komentar
Posting Komentar